Tentang Saya

Nama          : Rita Ayu
Tanggal Lahir :	28 February 1970
Jenis Kelamin :	Perempuan
Profesi       : Guru Agama 
                SMKN 2 Pekanbaru
Agama         : Islam

Materi Pembelajaran

1. Kelas 10
2. Kelas 11
3. Kelas 12

Powered By WSA Enterprise :

Sejarah yang Hilang: Kejayaan Ilmuwan Islam Abad ke-8 s/d 16

Written By cikgu rita on Jumat, 13 April 2012 | 23.06

Don’t judge the book by its title! Pelesetan dari “don’t judge the book by its cover” mungkin sangat tepat diberikan kepada buku terbitan Gramedia Pustaka Utama (2009) dengan judul yang sangat panjang: “Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern” dengan tambahan “dari Musa al-Khawarizmi di bidang matematika sampai Ibnu Sina di bidang ilmu kedokteran,” dan tambahan lagi: “kisah-kisah yang perlu diingat kembali.”

Dari judulnya, kita akan mengira buku ini akan menceritakan kiprah para ilmuwan Muslim dengan hasil karyanya secara terperinci. Ketika kita sudah membaca setengah dari buku ini, kita akan menyadari bahwa bukan seperti itu yang dimaksud oleh penulisnya Ehsan Masood. Buku ini justru membahas cukup komprehensif mengenai sejarah dan perkembangan sains selama masa-masa kekalifahan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW 632 M dan setelah masa-masa empat kalifah (Khalifaur-rasyidin), terutama pada masa Dinasti Abbasiyah (750 – 800 M). Judul aslinya dalam bahasa Inggris sudah sangat tepat: Science and Islam, a History.
Masood yang pernah datang ke Jakarta pada November 2007 atas undangan The Wahid Instituteadalah seorang penulis dan jurnalis muslim keturunan Pakistan yang lahir pada Agustus 1967 di London dan saat ini tinggal di kota kelahirannya itu. Ia adalah penulis di majalah Nature (bahkan pernah menjadi salah seorang editornya) dan Prospect, serta pembuat situs Opendemocracy.net.Ia juga mengajar di Imperial College London dan menjadi penasihat untuk the British Councildalam bidang sains dan hubungan kebudayaan.
Masood membuka bukunya dengan keruntuhan Romawi dengan luluh lantaknya Kota Roma oleh serangan Alaric raja Jerman dari suku Visigoth pada 410 M, dan dipindahkannya ibukota Romawi ke Konstantinopel 66 tahun setelah serangan itu oleh kaisar Romawi terakhir Romulus Augustus. Mulai saat itulah para ahli sejarah menuliskannya sebagai Zaman Kegelapan, zaman ketika peradaban barat tanpa ilmu, sastra, atau bahkan kehidupan yang beradab. Padahal pada masa-masa Zaman Kegelapan Eropa itulah, tidak jauh di Timur Tengah, tumbuh suatu peradaban yang memunculkan temuan-temuan di bidang sains, teknologi, kedokteran dan filsafat yang – sayangnya – tidak diakui (atau setidaknya) diabaikan oleh para sejarawan Barat.
Namun demikian, akhir-akhir ini banyak penulis Barat yang mulai menyadarinya. Masa-masa itu disebut sebagai “sejarah yang hilang” oleh Michael Hamilton Morgan dari New Foundation of Peace (National Geographic, 2006), atau bahkan sebagai “pencurian sejarah” oleh sejarawan Jack Goody (halaman 2). Menarik juga komentar Prince of Wales (Pangeran Charles) dalam pidatonya di Oxford University 27 Oktober 1993: “Bila ada banyak kesalahpahaman di dunia barat tentang hakikat Islam, maka banyak juga ketidaktahuan tentang utang kebudayaan dan peradaban kita kepada dunia Islam. Saya rasa ini adalah kegagalan yang berakar dari ditutupinya sejarah yang kita warisi selama ini.” (kutipan pembuka Bab 1: Mitos Zaman Kegelapan, halaman 1).
Bab utama buku ini adalah Bab 5: “Sang Khalifah Sains” yang membahas bagaimana kiprah Khalifah Al-Ma’mun yang berkontribusi besar dalam kejayaan sains. Putra Khalifah Harun al-Rasyid yang bagi kita lebih dikenal melalui Cerita 1001 Malam, menduduki kekuasaannya setelah membunuh saudaranya sendiri. Tetapi ialah yang meletakkan kaidah-kaidah sains yang akan menjadi pelopor sains modern. Sang khalifah sendiri tergila-gila kepada Aristoteles, filsuf besar Yunani. Pada masa kekhalifahannya yang berpusat di Baghdad, ia mengutus para ilmuwan untuk mencari buku-buku dari Barat (Yunani), termasuk dari India atau Persia, untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Penerjemahan buku-buku itu ke dalam bahasa Arab menghasilkan buku-buku yang menjadi landasan sains di dunia Islam. Hal itu karena para ilmuwan muslim tidak hanya sekadar menerjemahkan karya-karya ilmuwan Eropa, tetapi juga melakukan kritik dan membuat eksperimen-eksperiman baru yang kelak justru membantah temuan-temuan ilmuwan Yunani dan menghasilkan temuan-temuan baru yang brilian. Lucunya, kelak setelah masa-masa kejayaan kekhalifahan surut, karya-karya berbahasa Arab ini kembali dipelajari ilmuwan-ilmuwan Barat dan kemudian memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang dalam sejarah diakui hebat seperti Galileo, Copernicus, termasuk Newton yang lebih modern. Dalam pelajaran sejarah kita, kita akan mendapati bahwa perkembangan sains dan teknologi seolah-olah selalu berasal dari ilmuwan-ilmuwan Yunani dan lalu meloncat ke ilmuwan-ilmuwan Renaisance mulai seangkatan Newton dan kawan-kawan; melupakan masa-masa perkembangannya di dunia Arab (Islam).
Pada masa Abbasiyah inilah diperkenalkan penggunaan kertas yang berasal dari China secara luas sehingga buku-buku lebih banyak dibuat. Sistem angka Arab yang kita kenal sekarang (0123456789) diperkenalkan oleh al-Kindi yang justru menyebutnya sebagai angka India. Dari sistem angka India yang memperkenalkan angka 0 inilah kemudian muncul aljabar oleh Al-Khawarizmi. Penggunaan sistem angka India itulah yang memberikan sumbangan revolusi sains yang luar biasa. Temuan-temuan dan pengukuran-pengukuran semakin akurat, terutama di bidang astronomi yang memang sangat diperlukan di dunia Islam untuk penentuan waktu-waktu shalat, awal Ramadhan, termasuk arah kiblat yang akurat.
Memang dengan mengusung aliran rasionalisme yang dianut Khalifah Al-Ma’mun dan beberapa ilmuwannya, akhirnya beberapa tokoh muslim tradisional menilai perkembangan sains telah menjauhkan penggunanya dari nilai-nilai keagamaan. Bahkan termasuk Ibnu Sina (Avicennia) sendiri yang terkenal dengan Kanun Kedokteran yang menjadi rujukan kedokteran barat selama berabad-abad, menjadi takabur dengan meyakini bahwa Tuhan dengan sengaja telah membuat dirinya lebih cerdas daripada orang lain, dan harus selalu pasti bahwa ada penjelasan fisika dibalik mukzizat (halaman 88).
Tetapi Ibnu Sina juga yang diduga pertama kali menemukan hukum superposisi pada abad ke-11, bahwa lapisan batuan yang berada di bawah akan berumur lebih tua; jauh sebelum menjadi salah satu Hukum Steno yang dipostulatkan pada abad ke-17. Survival for the fittest yang dijadikan salah satu argumen Darwin untuk Teori Evolusinya, bahkan pernah dilontarkan oleh al-Jahiz yang menerbitkan Kitab al-Hayawan (Buku Dunia Hewan) pada abad ke-9.
Buku ini membawa kesan bahwa jika ingin memajukan sains harus dimulai dari keinginan penguasa untuk memajukannya. Ilmuwan-ilmuwan muslim selama zaman kekhalifahan itu berhasil berjaya berkat dukungan pemerintah atas usaha-usahanya. Maka ketika Baghdad diserbu cucu Jengis Khan, Hulaku Khan (walaupun kemudian menjadi muslim dan bahkan ikut memajukan sains dan ilmu pengetahuan), inkuisisi Islam di Spanyol, dan berbagai konflik di kalangan berbagai aliran Islam sendiri, perkembangan sains kembali bergeser ke Eropa. Justru temuan-temuan para ilmuwan muslim itu berbalik seolah-olah menjadi bumerang ketika setelah Revolusi Industri di abad ke-18 kolonialisme menjajah negara-negara Islam.
Masood menutup bukunya dengan kalimat, “Jika sains ingin dikembalikan ke berbagai negara Islam, sains harus dilakukan tanpa mencampuri hak seseorang untuk memilih agamanya masing-masing.”
Sebagai penutup, sangat menarik bahwa buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (Kelompok Kompas Gramedia), penerbit yang rasanya jarang sekali menerbitkan buku-buku bertemakan Islam.
23.06 | 0 komentar | Read More

Kiat Mengatasi Ambisi Terhadap Kekuasaan dan Jabatan

Bagaimana Kiat dan Cara Mengatasi Ambisi Terhadap Kekuasaan dan Jabatan?
Pertama. Di dalamnya banyak terdapat peringatan terhadap tindakan-tindakan mencalonkan diri untuk sebuah kekuasaan dan mengecam sikap keterkaitan hati dengan posisi kepemimpinan.
Kedua. Selalu mengingat beban yang harus dipikul oleh seorang pemimpin, baik di dunia maupun akhirat.
Salah satu fitrah manusia yakni mudah lupa, dan tidak dapat teratasi kecuali dengan diingatkan.
Firman Allah Ta'ala :
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi kaum yang beriman". (QS : Dzariyat : 55)
Ketiga. Membiasakan diri bersikap taat dan berlatih meredam keinginan jiwa sejak kecil.
Sabda Nabi Shallahu alaihi wassalam :
"Beruntunglah orang yang memegang kendali kudanya dalam melakukan jihad di jalan Allah. Walau kusut rambutnya dan kakinya berdebu, namun jika ia diberi tugas untuk menjaga, ia laksanakan dengan baik, dan jika ia diberi tugas untuk mengawal di belakang, maka ia laksanakan tugasnya dengan baik". (HR. Bukhari dan Ibnu Majjah).
Keempat. Perilaku seperti ini akan menolong seseorang untuk dapat membersihkan hati serta ambisinya dari keinginan menjadi pemimin, bahkan ia justru akan bersyukur kepada Allah jika tidak memperolehnya.
Kelima. Mengingat perjalan hidup para salafush shaleh dan sikap mereka terhadap kekuasaan dan jabatan.
Sesungguhnya perjalanan hidup mereka sarat dengan kewaspadaan dan akan senantiasa menjauhkan diri dari posisi kepemimpinan tersebut, karena tanggung jawab dan akibat-akibatnya. Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar ra menerima jabatan sebagai khalifah, beliau berkhutbah dihadapan kaum mukminin.
"Wahai manusia, jika kalian mengira bahwa aku menjabat kedudukan khalifah ini karena ambisiku atau karena keinginanku untuk mengambil kepentingan pribadi atas kalian dan kaum muslimin, maka hal itu tidaklah benar. Demi zat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, aku tidak menduduki jabatan ini karena ambisiku, dan sungguh bukan untuk mementingkan diri pribadi terhadap kalian dan kaum muslimin. Aku tidak menginginkannya sama sekali, dan aku tidak memohon kepada Allah terhadpa jabatan ini, baik secara rahasia atau secara terang-terangan. Aku sungguh telah memikul suatu masalah yang amat besar di mana aku tidak mampu memikulnya kecuali bila aku ditolong oleh Allah. Sesungguhnya aku ingin sekali jabatan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang shahabat Rasulullah shallahu alaihi wassalam, yang lain dengan keharusan berlaku adil, maka aku akan mengembalikannya kepada kalian, dan untukku tiak ada bai'at bagi kalian, serahkan lah jabatan ini kepada seorang yang kalian sukai, aku tidak lain hanyalah salah seorang dari kalian". (Kanz al-Ummaal, 'Alaauddiin al-Muttaqi, 5/615)
Ketika masa-masa akhir jabatan Umar ibnul Khatthab, ia menunjuk enam orang untu memusyawarahkan jabatan khalifah. Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengusulkan kepada Umar ibnu Khtatthab agar anaknya (Abdullah bin Umar) yang menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Maka Umar marah dan menolak usulan itu dengan berkata:
"Celakalah engka! Demi Allah, aku tidak meminta kepada Allah akan hal ini. Aku tidak memiliki kecakapan apa-apa dalam mengurus masalah kalian, dan kau tidak mensyukurinya, sehingga aku ingin agar jabatan kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan ini adalah kebaikan, maka aku telah memperolehnya, dan jika hal ini suatu keburukan, maka cukuplah salah seorang dari keluarga Umar yang akan dihisab dan ditanya tentang permasalahan umat Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Aku sudah berupaya semampuku dan telah mengharamkan keluargaku. Dan jika aku selamat dari siksa, tidak menanggung dosa, dan tanpa memperoleh pahala, maka hal itu sudah cukp membuatku senang". (Akhbaar Umar, at-Thanthawiyaan, hal 452).
Umar bin Abdul Aziz ketka dilantik menjadi khalifah, ia di datangi oleh seorang tentara pengawal untuk berjalan di hadapannya dengan sebilah tombak sebagaimana kebiasaan lyang berlaku bagi para khalifah sebelumnya. Maka Umar berkata kepada orang itu, "Ada urusan apa antara aku dan kamu? Menjauhlah dariku. Aku hanya seorang dari kaum muslimin". Kemudian ia berjalan bersama orang-orang samp;ai memasuki masjid. Ia menaiki mimbar dan orang-orang berkumpul dihadapannya. Lantas ia berkata :
"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji, karena urusan kekhalifahan ini tanpa pendapatku dalam hal tersebut, tanpa permintaanku, dan tanpa musyawarah dengan kaum muslimin. Sesungguhnya aku telah melepaskan bai'at kalian terhadapku, maka pilihlah orang lain untuk mengurus permasalahan kalian, yang kalian kehendaki".
Mendengar hal itu kaum muslimin berteriak dengan suara bulat, "Kami telah memilihmu untuk mengurus masalah kami, dan kami semua telah ridha denganmu..." (al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/212-213).
Keenam. Merenungi kedudukan dunia dari akhirat, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan dituturkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta'ala berfirman :
".. Katakanlah, Kenikmatan duniawi itu sangat sedikit, sedangkan akhrat itu lebih baik bagi siapa yang bertakwa ". (QS : An-Nisaa' : 77)
".. Padahal kenikmatan hidup dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit". (QS : At-Taubah : 38)
" .. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS : al-Imran : 14)
Wallahu'alam.
Source : Era Muslim
09.24 | 0 komentar | Read More

Saya Ingin Berurusan dengan Tuhan Secara Langsung


Ini merupakan kisah perjalanan seorang gadis Amerika kristen yang akhirnya menemukan Islam dan akhirnya memutuskan untuk masuk Islam, berikut kisahnya:
Saya dibesarkan dalam keluarga beragama Kristen. Pada saat itu, orang Amerika lebih religius dari yang ada sekarang- banyak keluarga Amerika pergi ke gereja setiap hari Minggu. Orangtua saya sendiriterlibat dalam komunitas gereja. Bahkan kami sering mengundang pendeta (imam Protestan) ke rumah. Ibu saya pun mengajar di Sekolah Minggu, dan saya membantunya.
Saya lebih religius dibanding anak lain, meskipun saya tidak begitu ingat pada waktu itu. Hadiah ulang tahun saja, bibi saya memberikan Injil, dan adik saya sebuah boneka. Lain waktu, saya meminta orang tua saya memberi saya sebuah buku doa, dan saya membacanya setiap hari selama bertahun-tahun.
Ketika saya di SMP, saya menghadiri program studi Injil selama dua tahun. Sampai saat ini, saya telah membaca beberapa bagian dari Injil, tetapi tidak memahaminya dengan baik. Sekarang adalah kesempatan saya untuk belajar. Sayangnya, kami pada waktu itu mempelajari banyak bagian dalam Perjanjian Lama dan Baru yang saya temukan susah untuk dijelaskan, bahkan aneh.
Sebagai contoh, Injil mengajarkan ide yang disebut dosa asal, yang berarti bahwa manusia semua lahir dalam keadaan berdosa. Saya memiliki saudara bayi, dan saya tahu bahwa bayi itu tidak berdosa.
Injil memiliki cerita yang sangat aneh dan mengganggu tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Daud, misalnya. Saya tidak mengerti bagaimana nabi bisa berperilaku dengan cara yang Injil katakan tentang apa yang mereka lakukan.
Ada banyak hal lain yang membingungkan saya tentang Injil, tetapi saya tidak mengajukan pertanyaan. Saya takut untuk bertanya, saya ingin dikenal sebagai "gadis yang baik."
Hal yang paling penting adalah gagasan tentang Tritunggal. Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan memiliki tiga bagian, salah satunya adalah manusia? Setelah mempelajari mitologi Yunani dan Romawi di sekolah, saya pikir ide Trinitas dan orang suci sangat mirip dengan ide Yunani dan Romawi tentang dewa yang bertanggung jawab atas berbagai aspek kehidupan.
Ada seorang anak laki-laki yang bertanya tentang Trinitas, namun jawaban dari guru kami malah makin membingungkan dan tidak memuaskan. Guru kami, seorang profesor teologi dari University of Michigan justru menyuruhnya untuk berdoa dan meyakini iman kristen.
Ketika saya di SMA, saya diam-diam ingin menjadi biarawati. Saya tertarik dengan pola ibadah yang diatur setiap hari, kehidupan yang sepenuhnya untuk Tuhan, dan berpakaian dengan cara yang menyatakan gaya hidup agama saya. Namun ada hambatan bagi ambisi ini, karena saya bukan Katolik.
Saya tinggal di sebuah kota Midwestern di mana umat Katolik merupakan minoritas yang berbeda dan tidak populer. Pendidikan Protestan saya telah menanamkan dalam diri saya untuk membenci patung-patung religius, dan meyakini sang kudus mati memiliki kemampuan untuk membantu saya.
Di perguruan tinggi, saya terus berpikir dan berdoa. Para siswa sering berbicara dan berdebat tentang agama, dan saya mendengar ide-ide yang berbeda. Seperti Yusuf Islam, saya mempelajari apa yang disebut agama-agama Timur: Buddha, Konghucu, dan Hindu. Namun hal itu tidak membantu.
Saya bertemu seorang pria muslim dari Libya, yang memberitahu saya sedikit tentang Islam dan Alquran. Dia mengatakan kepada saya bahwa Islam agama yang modern, paling up-to-date dalam bentuk agama yang diwahyukan. Karena saya pikir islam dari Afrika dan Timur Tengah sebagai tempat yang terbelakang, saya tidak bisa melihat Islam sebagai agama modern.
Keluarga saya mengajak saudara muslim Libya saya ini ke layanan natal gereja. Layanan ini menurut saya sangat indah, tetapi pada akhirnya, ia bertanya, "Siapa yang mengajarkan prosedur ini? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri dan membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu bagaimana berdoa? Ceritakan pada saya tentang sejarah awal Gereja? Tapi pertanyaannya membuat saya marah pada awalnya, namun kemudian membuat saya berpikir.
Apakah orang-orang yang merancang ibadah benar-benar telah memenuhi syarat untuk melakukannya? Bagaimana mereka mengetahui bahwa bentuk ibadah harus dilakukan? Apakah mereka memiliki instruksi dari ilahi?
Saya tahu bahwa saya dari dulu tidak percaya pada banyak ajaran Kristen, tetapi terus menghadiri acara di gereja. Ketika jemaat membacakan potongan injil saya anggap itu justru menghujat Tuhan, seperti Pengakuan Iman Nicea, saya diam-diam bahkan tidak melafalkannya. Saya merasa seperti alien di gereja, merasa asing.
Pernah ada seseorang perempuan yang sangat dekat dengan saya, ia mengalami masalah perkawinan yang mengerikan, akhirnya pergi ke pendeta gereja untuk meminta saran. Namun apa yang terjadi? Mengambil keuntungan dari rasa sakit teman saya itu, pendeta tersebut justru membawanya ke sebuah motel dan menggodanya.
Sampai saat ini, saya tidak mempertimbangkan dengan cermat peran pendeta dalam kehidupan Kristen. Sekarang saya harus tahu. Sebagian besar orang Kristen percaya bahwa pengampunan datang melalui layanan "Perjamuan Kudus", dan seorang imam ditahbiskan atau pendeta harus melakukan layanan.
Saya pergi ke gereja lagi, dan duduk dan melihat para pendeta di depan. Mereka tidak lebih baik daripada jemaat gereja, bahkan beberapa dari mereka lebih buruk. Bagaimana bisa bahwa manusia, setiap manusia, perlu perantara kepada Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berurusan dengan Allah secara langsung, dan menerima absolusi Nya secara langsung?
Segera setelah ini, saya menemukan terjemahan Al-Quran di toko buku, membelinya dan mulai membacanya. Saya membacanya, putus-sambung, selama delapan tahun. Selama ini, saya terus mengkaji agama lain.
Saya tumbuh dan semakin menyadari dan takut akan dosa-dosa saya. Bagaimana saya bisa tahu apakah Tuhan akan mengampuni saya? Saya tidak lagi percaya bahwa model Kristen, cara pengampunan Kristen akan berhasil. Dosa-dosa saya sangat membebani saya, dan saya tidak tahu bagaimana melarikan diri dari beban itu. Saya merindukan pengampunan.
Saya baca di Quran yang artinya:
Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."
"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw.)"
Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?"(Al-Mâ'idah: 82-84)
Saya mulai berharap bahwa Islam memiliki jawabannya. Bagaimana saya bisa mengetahui ini dengan pasti?
Saya melihat umat Islam melakukan shalat di berita TV, dan mengetahui bahwa mereka memiliki cara khusus untuk berdoa. Saya menemukan sebuah buku yang menjelaskan hal tersebut dan saya mencoba melakukannya sendiri (saya tidak tahu apa-apa tentang wudhu, dan tata cara shalat yang benar). Saya shalat seperti itu, diam-diam dan sendirian, selama beberapa tahun.
Akhirnya, sekitar delapan tahun setelah pertama kali membeli Al-Qur'an, saya membaca:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu."(Al-Mâ'idah:3)
Saya menangis karena gembira, karena saya tahu bahwa Allah telah menulis Al-Qur'an ini untuk saya yang sedang mencari kebenaran. Allah tahu bahwa saya Anne Collins, di Buffalo, NY, AS, akan membaca ayat Al-Quran pada Mei 1986, dan kemudian diselamatkan.
Sekarang, saya tahu bahwa ada banyak hal yang saya harus pelajari, misalnya, bagaimana shalat dengan benar, yang Al-Quran tidak menjelaskannya secara rinci. Masalahnya adalah bahwa saya tidak begitu banyak tahu tentang orang Islam.
Muslim jauh terlihat sedikit di AS pada waktu itu. Saya tidak tahu di mana untuk menemukan mereka. Saya menemukan nomor telepon Islamic Society di buku telepon, dan menelponnya, tapi ketika seorang pria menjawab, saya panik dan menutup telepon. Apa yang harus saya katakan? Bagaimana mereka akan menjawab saya? Apakah mereka akan curiga?
Dalam beberapa bulan selanjutnya, saya menelepon masjid beberapa kali, dan setiap kali diangkat saya panik dan menutup telepon. Akhirnya, saya melakukan hal yang pengecut: Saya menulis surat meminta informasi. Saudara, tolong kirimkan saya pamflet tentang Islam. Saya mengatakan kepada pengurus masjid saya ingin menjadi Muslim, tetapi dia bilang, "Tunggu sampai Anda yakin." Ini mengganggu saya bahwa dia menyuruh saya untuk menunggu, tapi saya tahu dia benar, bahwa saya harus yakin karena begitu saya menerima Islam, akan banyak konsekuensi yang harus saya jalani.
Saya menjadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya, siang dan malam. Pada beberapa kesempatan, saya pergi ke masjid (pada waktu itu, masjidnya merupakan sebuah rumah tua) dan berkeliling berkali-kali, berharap melihat seorang muslim, bertanya-tanya bagaimana rasanya berada di dalam masjid.
Akhirnya, suatu hari di awal November 1986, saat saya bekerja di dapur, tiba-tiba saya yakin bahwa saya harus menjadi seorang muslim. Masih dalam kondisi malu, saya mengirim surat ke masjid. Isi suratnya, "Saya percaya kepada Allah yang satu, Allah Yang Sejati, saya percaya bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, dan saya ingin diperhitungkan di antara para saksi."
Pengurus masjid akhirnya menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan kalimat Syahadat di telepon kepadanya. Dia mengatakan kepada saya kemudian bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya pada saat itu, dan saya saat ini menjadi semurni bayi yang baru lahir.
Saya merasa beban dosa tergelincir dari bahu saya, dan saya menangis. Saya tidur sedikit malam itu, menangis, dan mengulangi nama Allah. Pengampunan telah diberikan kepada saya. Alhamdulillah.(fq/oi)
Source : Era Muslim
09.22 | 0 komentar | Read More

Pernahkah Syiah Melawan Zionis?

Oleh, AM Waskito

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

Sejarah Syiah: "Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir."
[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.

Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?

Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…

PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia. Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim. Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala. Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kufar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kufar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.

Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat. Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas. Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala. Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya. Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”

“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbassiyah. Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki. Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran. Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.

Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni. Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar. Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu. Darimana dananya? Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran. Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran. Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan. Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.

KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel? Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel? Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi? Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel. Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank. Hanya itu saja. Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka vis a vis, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya. Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.

KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab. Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an. Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant. Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?

KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi. Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa. Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita disana. Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin. Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan. Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.

Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran. Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran. Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga. Mereka sama-sama Ahlul Qiblah. Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh regim Hafezh Assad. Ternyata, regim itu dan anaknya, dibantu oleh Iran juga. Nah, ini kan sangat ironis. Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.

KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka. Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan. Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah. Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan. Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.

KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan. Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis. Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata. Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu. Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela regim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amin ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional. Sedangkan kita tahu, regim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan regim Suriah.

Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja. Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kufar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan. Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah. Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah. Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil a’alamiin
09.20 | 0 komentar | Read More